Fintech: Pengertian, Manfaat, Jenis-jenis, Regulasi, dan Contoh

“Fintech menjadi jawaban untuk kemudahan transaksi yang cepat dan cukup aman.”

Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan teknologi.

Seakan sudah mendarah daging, teknologi tidak bisa dipisahkan lagi dari kehidupan seorang manusia.

Dibandingkan dompet yang tertinggal di rumah, lebih panik mana apabila ponsel Anda yang tertinggal?

Jantung mungkin sudah mpot-mpotan memikirkan di mana ponsel itu tertinggal.

Dengan ponsel dan teknologi, Anda tak perlu bepergian jauh untuk membeli barang.

Tak perlu lagi bolak-balik ke bank mengeluhkan proses transaksi yang ribet dan memusingkan.

Asalkan Anda memegang ponsel, tak perlu lagi memusingkan uang dengan hadirnya fintech.

Pengertian Fintech, fungsi, manfaat, dan contoh
Pengertian Fintech, fungsi, manfaat, dan contoh

1. Pengertian Fintech

Anda mungkin tidak familiar dengan kata ‘fintech’, namun tanpa Anda sadari kata ini telah meresap dalam kehidupan sehari-hari Anda.

Lalu apakah arti dari kata ‘fintech’ itu sendiri?

Fintech merupakan singkatan dari financial technology atau dalam Bahasa Indonesia teknologi finansial.

Dilansir dari karya-karya Rubini (2017), Arjunwadkar (2018), serta Chishti dan Barberis (2016), fintech adalah penggunaan teknologi dalam sektor finansial, sedangkan industri fintech mengacu pada sekelompok perusahaan yang mengenalkan inovasi dalam pelayanan finansial melalui teknologi modern.

Bank Indonesia mendefinisikan financial technology sebagai

“hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja.”

Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial, teknologi finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keadaan sistem pembayaran.

Dilihat dari tiga pengertian tersebut, fintech berkaitan erat dengan teknologi dan sektor finansial yang memiliki dampak terhadap perekonomian suatu negara.

Fintech juga memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat berupa layanan di bidang finansial.

2. Karakteristik

Suatu perusahaan yang ingin membuka bisnis di bidang finansial teknologi di Indonesia diharuskan untuk mendaftarkan diri di Bank Indonesia atau BI.

BI pun tidak asal menerima pendaftaran perusahaan; ada beberapa kriteria yang telah dicanangkan oleh BI sebagai syarat lolos pendaftaran.

Kriteria tersebut tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia No. 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial yaitu sebagai berikut:

  • Bersifat inovatif;
  • Memberi dampak pada layanan fintech yang telah berkembang atau eksis terlebih dahulu;
  • Mampu memberi manfaat bagi masyarakat secara umum dan dapat dipergunakan secara luas;
  • Kriteria lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Kriteria pertama, kedua, dan ketiga memiliki hubungan di mana Bank Indonesia secara tidak langsung menunjukkan kepeduliannya terhadap konsumen perusahaan penyelenggara teknologi finansial, yaitu masyarakat Indonesia sendiri.

Kriteria pertama yaitu inovatif akan mendorong industri fintech menjauh dari stagnansi, sedangkan inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut akan mendorong perusahaan-perusahaan lainnya di bidang yang sama agar terus terpacu dan mengembangkan diri.

Pada akhirnya, menurut kriteria ke tiga, masyarakat Indonesia akan menerima manfaat dari industri fintech.

Tak hanya satu, namun seluruh lapisan masyarakat Indonesia haruslah dapat menggunakan pelayanan-pelayanan finansial tersebut.

Kriteria ke empat merupakan kriteria yang muncul tergantung pada situasi dan kondisi.

Tergantung pada keadaan finansial negara dan/atau keadaan masyarakat Indonesia pada saat itu, kriteria suatu perusahaan teknologi finansial dapat berubah.

Begitu juga dengan industri itu sendiri; suatu keadaan spesial dapat menekan Bank Indonesia untuk mengeluarkan kriteria-kriteria baru yang sesuai dengan zaman atau dengan kata lain, fleksibel.

3. Perkembangan

Frasa ‘pelayanan finansial’ sendiri baru kerap digunakan di Amerika Serikat setelah revolusi industri dimulai.

Pelayanan finansial pada mulanya dimaksudkan untuk menyediakan berbagai macam pelayanan yang berhubungan dengan transaksi keuangan.

Semakin lama, mulai bermunculan perusahaan-perusahaan yang mencari keuntungan melalui jasa ini.

Contoh dari pelayanan-pelayanan yang digunakan sebagai media pencari keuntungan oleh para investor adalah peminjaman, perpajakan, kredit, simpanan uang, dan asuransi.