Aerial Fotografi Semakin Diminati

Aerial fotografi atau fotografi udara semakin sering digunakan terutama ketika kegiatan-kegiatan dalam acara besar.

Jika sedang menghadiri kegiatan atau acara besar, tidak jarang kita melihat seperti pesawat kecil yang berputar di atas kepala kita.

Pesawat udara ini disebut drone.

Drone dapat merekam, mengambil, dan mengabadikan momen-momen penting seperti pada acara pernikahan, konser musik, perlombaan, dan sebagainya.

Hasil yang didapatkan dari menggunakan drone adalah pemandangan atau view yang dapat dilihat secara keseluruhan dari berbagai angle foto yang tidak biasa.

Namun, untuk menghasilkan hasil foto yang berkualitas membutuhkan keahlian yang cukup.

Aerial fotografi yang semakin diminati
Aerial fotografi yang semakin diminati

Awal Mula Aerial Fotografi

Tahukah Anda, pertama kali aerial fotografi dilakukan oleh seorang fotografer Prancis, Felix Tournachon pada tahun 1985.

Ia melakukannya menggunakan balon udara.

Namun sayang sekali hasil foto udara miliknya tidak diarsipkan.

Tapi terdapat pula foto udara yang diarsipkan yang merupakan karya dari James Wallace Black.

Ia mengambil objek foto kota Boston dengan permukiman yang padat.

Karyanya diberi nama “Boston as the Eagle and the Wild Goose See It”.

Karya tersebut berhasil memikat beberapa orang untuk bereksperimen dan menciptakan lebih banyak foto udara.

Selanjutnya, Arthut Batut mencoba foto udara dengan layang-layang.

Ia merekatkan kamera yang sebelumnya sudah diatur timer ke layang-layang.

Eksperimen ini berhasil dengan menangkap potret di atas kota Labruguiere, Prancis pada tahun 1889.

Penemuan selanjutnya dilakukan oleh Julius Neubronner asal Jerman.

Ia menggunakan burung merpati sebagai media pengambilan foto.

Metode ini disebut pigeon photography.

Metode ini dilakukan dengan mengikat kamera di dada burung merpati.

Namun sebelumnya kamera sudah disetting setiap 30 detik untuk pengambilan gambar.

Hasil foto ini tergantung arah terbang burung merpati.

Tidak jarang hasil foto yang didapat terlihat sayap burung merpati yang menjadi daya tarik tersendiri.

Terkadang burung merpati yang sedang bertugas sebagai fotografer ini tertembak atau dimangsa oleh predator.

Teknik Pengambilan Foto Udara

Ada beberapa teknik fotografi udara yaitu pengambilan foto udara secara tegak, pengambilan foto udara secara oblique, dan pengambilan foto udara secara high oblique.

Pengambilan foto udara secara tegak dilakukan tegak lurus dengan permukaan bumi sehingga foto yang dihasilkan bersifat vertikal.

Pengambilan foto udara secara oblique dilakukan secara miring yaitu posisi pesawat udara dengan permukaan bumi membentuk sudut miring.

Pengambilan foto udara secara high oblique dilakukan dengan memperhatikan garis batas cakrawala sehingga garis tersebut terlihat dalam hasil.

Ketinggian drone atau pesawat udara pada saat dilakukan pengambilan foto sangat berpengaruh terhadap hasil.

Semakin tinggi pesawat udara maka hasil foto yang didapat lebih memperlihatkan luas objek dan memiliki skala yang relatif kecil.

Namun jika tinggi pesawat udara rendah maka hasil foto yang didapat memperlihatkan objek yang terbatas.

Kelebihan dari teknik pengambilan foto ketinggian rendah ini adalah detail foto yang dihasilkan lebih baik daripada mengambil foto dengan ketinggian pesawat udara yang tinggi.

Kedua hal ini yang menjadi perhatian bagi seorang fotografer aerial.

Biasanya foto yang diambil dari jarak rata-rata digunakan untuk kepentingan tertentu seperti pemetaan jumlah penduduk dan kondisi tanah.

Yang paling penting dari semuanya adalah pengambilan foto aerial ini harus dilakukan dan disesuaikan dengan tujuan pengambilan foto.

 

Aerial fotografi ini pun saat ini sangat digemari terutama oleh para kaum milenial atau generasi Z.

Perkembangan fotografi aerial ini pun tidak lepas dari perkembangan teknologi drone yang semakin baik dan mudah didapatkan.

Perkembangan teknologi drone ini dibahas lengkap pada artikel Kupas Tuntas Teknologi Drone.